

PERAWATKU YANG HITAM MANIS (#2)

 

 

Setelah persetubuhanku yang pertama dengan Narsih perawatku, di hari-hari berikutnya di kantor setiap hari kami selalu menyempatkan berciuman dan bercumbu. Kadang-kadang kami melakukannya di gudang obat di siang hari menjelang puskesmas tutup, kalau pas semua petugas lainnya sudah pada pulang. Di gudang, aku melampiaskan nafsuku dengan menciuminya dan mengangkat rok seragam dinasnya, meremas susunya dengan sedikit membuka beberapa kancing kemeja, meraba tempik dan kelentitnya sampai Narsih menggelinjang panas, menggeser-geserkan kontolku ke tempiknya tanpa melepas celana dalam masing-masing, sampai kami berdua orgasme tanpa bersetubuh. Bagaimana pun, kami tak berani bersetubuh di kantor, sebab kawatir ketahuan orang.

Pernah, ketika Narsih sedang merawat pasien, membersihkan luka ringan di kepala bagian belakang pasien (pasiennya menelungkup di tempat tidur periksa), aku masuk kamar, pintu kamar perawatan kukunci, kemudian Narsih kudekati dari belakang dan pelan-pelan kuciumi lehernya yang jenjang, roknya kusingkap ke atas sampai pantatnya jelas tampak terlihat indah, lalu celana dalamnya sedikit kupelorot, dan jariku kumasukkan ke sela-sela tempiknya. Kumainkan jariku di dalam tempiknya yang basah sambil sekali-kali kumanipulasi kelentitnya yang menegang, sampai Narsih menggelinjang kenikmatan dengan sedikit terengah-mendesah hampir tak terdengar "... Ssshhhhh ...hhh" (berabe dong kalau pasien lelaki itu sampai mendengar desahan perawatnya) dan beberapa kali tangannya yang memakai sarung tangan plastik melepaskan kapas beralkohol atau Betadine yang digunakannya untuk membersihkan kepala pasien. Kemudian kontolku yang masih tertutup celana kugeser-geserkan ke sela-sela pantat Narsih yang celana dalamnya sudah kupelorot ke bawah tanpa kulepas. Sampai akhirnya aku orgasme keenakan setelah sekitar seperempat jam menggeserkannya ke pantat Narsih yang kenyal padat itu. Rupanya, dari raut wajah dan engahannya, walau aku tak tahu pasti, Narsih pun akhirnya orgasme karena kocokan jariku di dalam liang vagina dan kelentitnya itu.

Perbuatanku merangsang Narsih dan diriku ketika sedang merawat pasien hanya sekali itu saja kulakukan, sebab selain aku takut ketahuan pasien atau orang lain (sebab di luar kamar periksa ada beberapa anak buahku, yang mungkin saja tiba-tiba ingin masuk), juga bisa mengganggu proses perawatan pasien.

Seminggu setelah persetubuhanku yang pertama dengan Narsih, ketika itu hari Selasa (setiap minggu dua kali ada perawat wanita lain yang membantu datang ke puskesmasku, Selasa dan Kamis) aku janjian dengan Narsih untuk ketemu di suatu tempat di kota kabupaten, karena kebetulan aku saat itu mengurus sesuatu di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten. Hari itu aku ingin mengajak Narsih bergelut bugil total di suatu tempat yang aman.

Setelah urusanku pagi itu di kantor dinkes selesai, aku langsung menuju ke tempat janjian dengan Narsih. Aku tunggu di mobil sekitar setengah jam, Narsih akhirnya memenuhi janjinya datang.

"Siapa yang ada di puskesmas, Sih?", tanyaku untuk memastikan bahwa ada petugas perawat yang tinggal di puskesmas, supaya tidak mengganggu pelayanan kesehatan. "Oh, ada mbak Amani yang tugas koq pa.", jawabnya. Setelah memastikan semuanya beres, langung kutanya lagi Narsih: "Mau kamu kuajak ke S jalan-jalan?". Jawab Narsih: "Mau pa. Tapi, ayo cepat, biar nggak kesorean pulangnya, sebab aku bilang kepada pembantu kalau aku pulang sebentar menengok ibuku". Memang ibu Narsih bertempat tinggal di kabupaten yang sama, tetapi di kecamatan yang agak jauh dari rumah Narsih sekarang.

Langsung mobilku kupacu cepat ke kota S, sebab saat itu sudah pukul setengah sepuluh pagi, dan kuperkirakan paling lambat pukul 4 sore sudah harus sampai kembali di rumah. Waktu itu aku belum tahu apakah di kota kabupaten ini ada hotel yang bisa dipakai kencan pendek atau tidak, makanya kuputuskan saja ke kota S, yang pasti ada tempat untuk begituan.

Di tengah jalan, Narsih ingin berhenti untuk membeli celana dalam baru, aku juga nggak tahu apa alasannya membeli baru itu. Tapi nggak kupikirin. Perjalanan ke S kurang lebih 1 jam. Di tengah jalan kemeja seragam dinasku kucopot dan kuganti dengan kemeja lain, sedang Narsih kemeja dinasnya ditutupi dengan jaket.

Setelah sampai di S, aku tawari Narsih untuk ke pantai yang mempunyai motel-motel yang bisa dipakai kencan gelap. Narsih setuju saja.

Sampai di pantai, aku pesan kamar yang cukup besar. Kamar-kamar di sini tak terlalu bagus, tapi lumayanlah untuk kencan singkat. Toh yang diperlukan cuma kasur dan air cukup untuk mandi. Waktu itu di S belum ada hotel atau motel bagus yang sekarang bertebaran bisa digunakan untuk keperluan seperti itu.

Begitu masuk kamar, Narsih langsung kupeluk dan kuciumi, dan segera kupreteli jaket, kemeja dan roknya sampai tinggal celana dalamnya. Begitu hampir telanjang seperti itu, aku terpesona dengan tubuhnya yang ternyata sangat indah dengan kulit yang agak gelap. Baru hari itu aku melihat tubuh indahnya hampir bugil total.

Sebelum bertindak lebih jauh, Narsih minta pause untuk pipis dulu di kamar mandi. Sementara dia di kamar mandi, aku segera melucuti pakaianku sendiri sehingga tinggal celana dalam saja dengan kontol yang tampak menyembul tegang di dalamnya. Aku susul Narsih ke kamar mandi, dia sudah selesai pipis, celana dalamnya sudah dipasang lagi. Tanpa ayal di kamar mandi, dia kupepet ke dinding, dan kugelomohi seluruh tubuh setengah bugilnya dengan lidahku. Dengan ganasnya Narsih juga berbalik menciumi diriku. Habis-habisan susu ranumnya kujilat dan kugigit halus di sekitar pentilnya, sebab aku tak berani menggigitnya keras-keras (nyupang), takut ketahuan suaminya nanti. Kemudian, lidah kami saling bertaut dan saling memilin. Pokoknya kami keluarkan semua hasrat seksual ini tanpa hambatan, dan kesempatan bebas ini sudah kami tunggu beberapa hari.

Tak sabar, celana dalam Narsih kupelorot dan kulempar jauh-jauh ke sudut kamar mandi. Dengan posisi Narsih yang masih berdiri, jilatan lidahku kuturunkan pelan-pelan dari bibir, leher, susu, perut, sampai akhirnya ke lipatan selangkangannya. Tanpa memandangi isi lipatan itu, lidahku kujulurkan ke sela-sela jembutnya yang tak terlalu lebat. Mula-mula Narsih merapatkan pahanya, katanya geli "Ah, pah ... aku geli, jangan pah ...".

Tapi aku nggak peduli, dengan Narsih yang masih berdiri dengan punggung menempel rapat di dinding kamar mandi, kukangkangkan selangkangannya lebar-lebar. Aduh, kulihat pemandangan cantik dari tempiknya yang merah kehitaman dengan liang yang sempit. Nafsuku makin berkobar, kontolku makin tegang tidak karuan. Mulutku langsung kudekatkan ke tempik Narsih, dan kujilat tepi liangnya pelan-pelan. "Aachhhh .... Ngkkkkrrr ... aarrghhhh pah, papaaaaaah .... ", teriaknya keras. Narsih kelihatan menggeliat keras sambil spontan merapatkan selangkangannya sehingga kepalaku terjepit pahanya. Lidahku makin menggila saja, kumasukkan jauh-jauh ke dalam liang tempik Narsih yang baunya membuatku makin bergairah. Beberapa kali kugigit ringan labia minor dan mayornya. Tak lupa kelentitnya yang menonjol indah juga kukulum habis-habisan. Narsih makin menggelinjang nggak karuan. "Paaaah, Narsih nggak tahan paaah, ayo pah ... ke tempat tidur saja.", katanya terengah-engah setengah lemas.

Karena aku tak kuat menggendongnya, aku bimbing cepat dia keluar kamar mandi menuju ke tempat tidur.

Di tempat tidur, segera kutindih tubuh bugilnya yang kenyal itu sambil kuciumi bibir dan langit-langit mulutnya. Narsih rupanya sudah terangsang hebat, dia melenguh, "Aachh paaaah .... ".

Celana dalamku yang masih kupakai sejak tadi langsung kupelorot saja, sehingga akhirnya kami berdua bergumul dan bergelut dalam keadaan telanjang bulat. "Paaah, ayao paaah masukkan saja, nggak usah lama-lama ....", Narsih setengah memohon. Padahal aku sendiri sebetulnya masih ingin lebih lama menjilat-jilat dulu sebelum memasukkan kontol ke tempiknya.

Mendengar permohonannya itu, kontolku yang sedari tadi sudah mengacung tegang, mulai mencari tempiknya. Narsih yang telentang, telah mengangkangkan pahanya terlebih dulu tanpa disuruh. Dengan dibantu tangan Narsih, kontolku perlahan dimasukkan ke liang tempiknya. "Aduh enaknya", kata hatiku. Ternyata tempik Narsih cukup dahsyat rasanya, begitu masuk, pelan-pelan kugoyangkan pantatku ke kanan-kiri agar dengan mantap kontolku ambles ke dasar tempik Narsih. Hari ini jelas lebih enak dari pada seminggu yang lalu ketika aku memasukkan kontolku dari belakang sambil duduk.

Narsih tidak tinggal diam. Dia begitu aktif menaikturunkan pantatnya. Kontolku serasa dikulum. Tempik Narsih memang masih sempit, walau pun sudah dimasuki berkali-kali oleh kontol suaminya selama dua tahun (dan aku dengar dari tetanggaku juga sudah pernah disetubuhi oleh pacarnya sebelum suaminya sekarang ini).

Sambil melumat pentil susunya yang sangat indah bergoyang ketika Narsih menggelinjang kesana kemari, aku juga melirik ke bawah melihat gerakan tempiknya yang naik turun. Oh, betapa asyik pemandangan ini. Narsih memang hebat dalam bercinta, dia betul-betul cewek yang hiperseks dan menggairahkan.

Mulutnya terus berbunyi, "Ooooh, aaaacchhh .... Paaah .... Papaaaaaah... oooooch ... Arrrgh ... iiih ... paaaah ...!"

Setelah beberapa saat, Narsih menginginkan aku yang mengangkang, dan dia yang merapatkan selangkangannya, "Pah, aku yang merapatkan paha ya ...?", ia memohon. "Boleh", kataku.

Setelah merapatkan pahanya, aku dimintanya menggoyang naik turun, "Ayo pah, goyang, pah". Aku turuti semuanya, aku goyangkan naik turun kontolku ke tempiknya yang merapat. Memang aku agak kesulitan, karena gerakan ini aku tak terlalu enak bagiku karena terhalang sempitnya vagina Narsih yang dirapatkan, tapi demi sayangku pada Narsih ya nggak apa-apa. Narsih rupanya menikmati posisi seperti itu. Erangannya makin menjadi-jadi, "Oooooh.... Oooooch ... paahh, aku nggak kuat lagi paaaaah, ... aarcggghhh ...". Dia makin menggelinjang, tempiknya ikut dia geser-geserkan tutup buka yang tak terlalu lebar. Aku juga mulai menikmati gerakan ini, walau pun rangsangannya bagiku tak terlalu hebat. Lidahku terus mengenyot puting susunya yang terus bergoyang-goyang, tanpa sadar timbul cupang kecil di sisi sebelah dalam dari pentil susu kanannya karena gigitanku, ah sebodo amat, pikirku. Akhirnya, dengan erangan yang cukup keras dan mengagetkan, "Aaaachh paaaaah, aku mau sampaaaiii paaaah ... ooochhh ..", dia menggelinjang dan segera membuka tempiknya lebar-lebar, dan kusambut dengan kakiku yang ganti merapat dan menghunjamkan kontolku dalam-dalam de dasar tempiknya yang lezat itu. Narsih menggeliat, dengan dada yang dibusungkan ke atas yang makin memperindah tampakan pasangan susunya, dan ... "Aaaach paaah, aku ..... aaaach ... saaaampaiiii paah ... ooooiiich ...". Narsih bergetar sebentar dan lemas, dia telah orgasme. Kontolku di dalam terasa berdenyut-denyut dikenyot oleh otot dalam tempiknya. Nikmat rasanya. Tapi aku belum sampai, walau pun kalau digoyang sedikit saja, pasti sudah orgasme juga.

Kubiarkan Narsih beristirahat karena kelihatan energinya terkuras dengan datangnya orgasme dahsyat barusan. Kuteruskan jilatan lidahku pada bibir dan dadanya. Aku tidak mau melepaskan kontolku dari tempiknya. Kasihan dia.

Setelah pause sejenak, aku mulai mencopot kontolku dari tempik Narsih yang basah. Aku berputar dengan wajahku di bawah dan kontolku di wajah Narsih. Narsih tetap terlentang. Mulai kuserbu lagi tempik Narsih dengan jilatan lidahku. Narsih pun demikian, dia mulai mengulum permukaan kontolku, tapi sayang, kulumannya tidak terlalu enak, bahkan agak geli, dan sekali-sekali tergigit, sehingga kenyamananku terganggu. Rupanya Narsih belum pandai mengulum kontol. Mungkin suaminya tidak pernah mengajarinya untuk mengulum kontol dengan benar, atau suaminya memang tidak suka dikulum-kulum kontolnya.

Posisiku kuubah kembali, aku melorot ke bawah di antara kedua pahanya, dan tetap memainkan lidahku di kelentitnya. Sekali-sekali kupandangi tempik Narsih. Ternyata dari jarak dekat ini, tempik Narsih sangat bagus, dikelilingi jembut yang tipis tetapi melingkari sisi atas kanan dan kiri tempik secara teratur. Kelentitnya cukup menonjol. Lendir tempik tidak berlebihan, baunya pun merangsang gairah nafsuku. Lubang anus di bawah juga sempit, bersih, dan jelas tidak pernah dimasuki benda apa pun. Lubang anusnya pun kujilati yang membuat Narsih mendesis sambil mengangkat pantatnya, sehingga tempiknya pun makin menganga lebar. Kupindahkan lagi lidahku dari anus, dan kusergap lubang tempiknya, kujilati lagi, dan Narsih kembali mengerang, rupanya gairahnya setelah orgasme pertama sudah pulih lagi , "Ayooo paaah, dimasukkan lagi ... papaaah 'kan belum ... ooooch paaaah ... ".

Aku kembali merayap ke atas dan kembali Narsih kutindih, dan kontolku siap kumasukkan lagi ke liang tempiknya yang tetap menganga lebar. Narsih menggeliat-geliat tak beraturan. Aku dengan setengah duduk, menghunjamkan kontolku ke dalam tempiknya dalam-dalam, secara teratur kukeluar-masukkan. "Aaach ... acchhh, paaah ...". Narsih menyambut gerakanku dengan memutar-mutar pantatnya, sehingga kontolku terasa diperas-peras. "Addduuuh, Narsih, eeenaaak Narsiiiih ...". Narsih pun menjawab dengan mengerang pula, "Yaa, sayyyaaaang, aku saaaayaaang papaaah, ooooch papaaaah ... aku cinta papaaaah Wawaaan ...". Dia mengerang terus dan terus, sambil geliatannya makin menghebat, ditingkahi gerakan susunya yang makin merangsangku. Mata Narsih terpejam, dengan bibir indah yang menggumam namaku sekali-sekali. Oh, kamu manis sekali Narsihku. Kamu bidadariku. Kamu asyik-menggairahkan sekali. Kamu tak akan kulepas sampai kapan pun. Akan kusuburkan benih rahimmu dengan spermaku.

Akhirnya rasa geli yang memuncak di kontolku tak tertahankan lagi. Juga Narsih makin mengelojot. "Naaarsssssih, aku mau keluuuuaaar Sih ...., aku masukkan semuanya ke tubuhmu Siiih ...". "Yaaah, paaaah, tolong aku dibikinkan anak paaaaah ... ooooch paaaaah".

Air maniku tak tertahankan lagi menyemprot beberapa kali ke dalam liang tempik Narsih yang kusayangi ini. "Acch Siiiih ....". "Semprot yang kuuuaaat paaaah, aku sayang kamuuu paaaah, ... ooooch ...".

Langsung Narsih kudekap erat-erat, kedua kakinya dilingkarkan ke pinggangku erat-erat, seperti nggak mau dipisahkan lagi. Kontolku dikenyot-kenyot oleh tempiknya yang berdenyut-denyut menerima spermaku. Rasanya aku makin sayang Narsih.

Tak terasa jam terus bergulir. Tapi masih ada waktu.

Kusuruh Narsih membersihkan tempiknya, dan pipis, aku pun demikian. Aku masih ingin melanjutkan permainan ke babak berikutnya.

Setelah ngomong-omong ringan sambil berbaring, kontolku di pijat-pijat oleh jari-jari Narsih yang lentik. Dia cukup pintar memijat kontol (walau pun tidak bisa mengulum kontol), sehingga kontolku bangun kembali. Narsih tersenyum manis. Rupanya dia menginginkan hari itu diakhiri dengan kehangatan sekali lagi. Aku pun merespons dengan menciumi bibir, hidung, leher, telinga, dan seluruh wajahnya, sehingga semuanya basah mandi ludahku. Dia senang dengan gelomohan lidahku itu. Sambil jari-jariku kembali mengobok-obok tempik-vagina dan kelentitnya.

Karena waktu yang tak mau berkompromi, sehingga kami harus cepat-cepat pulang, maka permainan harus cepat diselesaikan.

Narsih kuminta untuk membalik badan, dan sedikit mengangkat pantat atau menungging. Tanganku kujelajahkan pada seluruh permukaan tempiknya dari belakang. Pemandangan dari belakang ternyata tak kalah indahnya, kelihatan tempik yang merekah merah kehitaman dengan liang yang menggoda. Gairahku langsung ke puncak ubun-ubun melihat pemandangan seperti itu. Tanpa lama-lama, kontolku dengan bantuan tangan kanan Narsih kuserobotkan masuk ke dalam tempiknya dari belakang. "Aduuuh paaaah, eenaaak paaaah", gumam Narsih. Satu tanganku kulingkarkan ke depan dan meremas-remas susunya yang menggantung indah. Narsih makin mendesis kenikmatan, aku pun juga nikmat. Tapi Narsih tak bertahan lama menungging, mungkin kelelahan, dia segera merebahkan pantatnya ke ranjang tetap sambil tengkurap. Kuikuti saja posisinya, sambil terus menghunjamkan keluar masukkan kontolku. Narsih makin mengerang, ibu jariku kumasukkan ke mulutnya, dan dia isap keras-keras. Aku terus menggoyangkan kontol, disambut dengan gerakan ringan dari Narsih yang juga memaju-mundurkan pantatnya. Tapi rupanya dia agak lelah, sehingga gerakannya tidak sedahsyat tadi. Kujilati punggungnya dari belakang. Rupanya dia sangat terangsang dengan jilatan itu, sehingga erangan dan desahannya kerasnya muncul kembali. "Aaaduuh paaah, nggak kuuuaaat paaaah, geeliiii ... ". Aku sodokkan terus kontolku sambil menjilati punggung dan meremas susu dari belakang. Lehernya kutolehkan ke samping, mulutnya kucari dan kugelomoh dengan bibirku, aduh, rupanya dia sangat terangsang, mulutku dibalas dengan jilatan bibirnya dari samping dengan ganasnya.

Aku tiba-tiba merasa akan sampai. Dengan cepat kubalikkan badannya, dan kontolku yang terlepas kembali kuhunjamkan dalam-dalam ke tempiknya yang sudah telentang kembali. Narsih juga merespons dengan melingkarkan lagi kakinya rapat-rapat ke pinggangku sambil menaikturunkan pantatnya. Kontolku seakan-akan diisap-isap. "Paaaah, ayo cepet keluar paaaah, aku mau keluuuaaaar paaaah .... Oooooocccc iiiicch ...", teriak Narsih. Mendengar erangannya, aku makin terangsang, kenikmatanku mulai sampai ke ujung kontol, dan segera kumuntahkan air maniku untuk kedua kalinya hari itu jauh-jauh ke dalam rahimnya, "Aaaaach Narsiiiih, aku keluuuuaaaaar .....". "Saaaamaaaa paaaaah, aku sampaaaaai jugaaaa .... Ooooch paapaaaaaah sayaaaaang ..... iiiiich ...".

Kupeluk Narsih erat-erat dengan kontol yang juga masih terkulum erat-erat oleh tempiknya, seakan-akan besok akan kiamat. Narsih, aku sayang kamu ...

Bersambung ke PERAWATKU YANG HITAM MANIS (#3)

 

Pengirim: resender (resender@yahoo.com)

 

Penilaian Pembaca: Bagus = 67%, Cukup = 0%, Jelek = 33%

 

     
<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>1                                                           </PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>